Kamis, 03 Maret 2016

Tugas 1 : Perekonomian Indonesia Dewasa Ini




PEREKONOMIAN INDONESIA DEWASA INI

Tahun 2015 diasumsikan banyak orang sebagai tahun yang lesu. Meskipun di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo yang digadang-gadang akan membawa perubahan yang signifikan untuk Indonesia, nyatanya dalam perbandingan perekonomian, keadaan Indonesia dinilai tidak sehebat beberapa tahun yang lalu.
Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia menilai bahwa negaranya telah dalam keadaan krisis yang ditakutkan berisiko kembali ke keadaan tahun 1998.
Sedangkan Tambunan, dalam bukunya Perekonomian Indonesia, menulis bahwa di dalam teoti-teori konvensional, pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kualitas dari factor-faktor produksi seperti SDM, kapital, teknologi, bahan baku, enterpreneurship dan energi. Akan tetapi, faktor penentu tersebut untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang, bukan pertumbuhan jangka pendek.

Dengan kata  lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik, sama atau lebih buruk dari tahun 2000 lebih ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya lebih jangka pendek, yang dapat dikelompokkan ke dalam factor internal dan eksternal.

Faktor eksternal didominasi oleh faktor-faktor ekonomi, seperti perdagangan internasional dan pertumbuhan ekonomi kawasan atau dunia.

Akan tetapi pemahaman tentang keadaan krisis yang berisiko untuk kembali ke keadaan tahun 1998 tidak didasari dengan fakta atau data yang kuat. Oleh karena itu, klaim atau isu tersebut hanya beredar seperti kabar burung yang ditakutkan akan membawa kegelisahan bagi netizen Indonesia lainnya.
Oleh karena itu, bagaimana keadaan ekonomi Indonesia untuk tahun 2015 ini? Bagaimana perbandingannya dengan tahun-tahun sebelumnya? Apakah keadaan ini dapat benar-benar berisiko untuk kembali pada krisis tahun 1998?
Pada tahun 2014, tepatnya pada akhir tahun di bulan Desember, Bank Dunia telah melaporkan dalam ekspektasinya – bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 nanti akan menyentuh angka 5.2% dan bahkan dapat lebih dari jumlah tersebut.
Hal ini dijelaskan di situs worldbank.org – prediksi tersebut keluar setelah evaluasi Bank Dunia terhadap Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi 2014 yang mencapat angka 5.1%.
Prediksi adanya pelambatan dari pertumbuhan di 2015 seperti penyesuaian harga minyak dunia serta bahan bakar dan termasuk efek dari ekspor-impor global. Akan tetapi, Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia – Rodrigo Chaves mengungkapkan “tips” untuk menghindari perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut.
“Pembelanjaan pasar domestik di Indonesia yang bertahan tinggi terus menopang pertumbuhan. Jika Indonesia memperkuat pondasi ekonomi yang lain dan memperkuat iklim investasi, Indonesia dapat mendorong kembali laju pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih pesat,” tutur Rodrigo Chaves dalam penjelasan singkat tentang “tips” tersebut.
Christine Lagarde sebagai Managing Director IMF di situs CNN Indonesia – menjelaskan bahwa walaupun dengan keadaan seperti ini, Lagarde tetap optimis dengan pengalaman Indonesia menghadapi krisis dan dapat terus mampu bertahan dari tekanan dan turbulensi lainnya.
“Lihatlah bagaimana Indonesia melewati krisis keuangan global dan ‘taper tantrum’ di 2013. Indonesia saat ini tentu lebih mampu menangani turbulensi semacam ini dibandingkan dulu,” tutur Lagarde.
Selain dari berbagai penjelasan di atas, dalam memasuki triwulan terakhir pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo juga mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang ada dua tahap. Akan tetapi, efek dari kebijakan ini juga belum dapat dirasakan karena jelas kebijakan paket ekonomi ini masih baru saja berjalan.
Hal tersebut dijelaskan dalam situs beritasatu.com – juga terkait anjuran Presiden yang menilai masyarakat Indonesia harus paham dengan nilai tukar dolar Amerika yang masih menguat terkait dengan tekanan eksternal.
Dengan penjelasan di atas yang telah mengemukakan bahwa Indonesia memang dalam keadaan krisis dan melambat pertumbuhan ekonominya. Oleh karena itu, jelas sebagian besar netizen Indonesia telah berasumsi adanya risiko kembali ke keadaan krisis moneter di tahun 1998. Akan tetapi hal ini jelas disanggah oleh Reza Priyambada sebagai Kepala Riset Korindo Securities Indonesia.
Terkait dengan hal tersebut, kebijakan paket ekonomi ini akan menjadi penentu kondisi ekonomi ke depan. Kemudian, masih dalam persepsi netizen Indonesia terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar – terbentuk dari asumsi krisis 1998 akan terulang.
“Masyarakat awam menyamakan kondisi saat ini seperti 1998, ketika rupiah jatuh ke titik rendah bebas, harga-harga naik dan terjadi pengangguran,” tutur Reza Priyambada.
Namun jelas penilaian serta asumsi awam tersebut tidak sesuai dengan keadaan kondisi ekonomi saat ini karena jelas dari ekonografik yang dijelaskan sebelumnya, telah disebutkan pertumbuhan serta kondisi ekonomi Indonesia masih aman.
Risiko untuk kembali seperti 1998 memang ada, tetapi tidak mesti bahwa hal tersebut akan terjadi karena perbaikan terus dikerjakan. Oleh karena itu, perbandingan kondisi ekonomi sekarang ini masih lebih baik dari 2008 dan bahkan 1998.
Dan jelas dengan berbagai penjelasan di atas, memang tidak lantas ekonomi Indonesia mendadak menjadi lebih baik, akan tetapi proses perbaikan terus berjalan sehingga harapan untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi Indonesia baik secara nasional maupun global akan terpenuhi.
Daftar Pustaka :                           
Marina, Dinssy. http://dinskeey.blogspot.co.id/2011/03/bab-3-pertumbuhan-dan-perubahan.html. Tanggal : 2 Maret 2016. Pukul : 20.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Perusahaan Memelihara Karyawan untuk Meningkatkan Kinerja Karyawan dan Perusahaan

Bagaimana Perusahaan Memelihara Karyawan untuk Meningkatkan Kinerja Karyawan dan Perusahaan        Karyawan berperan sangat penting ...