PEREKONOMIAN INDONESIA DEWASA INI
Tahun 2015 diasumsikan banyak orang sebagai tahun yang lesu.
Meskipun di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo yang digadang-gadang akan
membawa perubahan yang signifikan untuk Indonesia, nyatanya dalam perbandingan
perekonomian, keadaan Indonesia dinilai tidak sehebat beberapa tahun yang lalu.
Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia menilai
bahwa negaranya telah dalam keadaan krisis yang ditakutkan berisiko kembali ke keadaan tahun 1998.
Sedangkan Tambunan, dalam bukunya Perekonomian Indonesia, menulis bahwa
di
dalam teoti-teori konvensional, pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh
ketersediaan dan kualitas dari factor-faktor produksi seperti SDM, kapital,
teknologi, bahan baku, enterpreneurship dan energi. Akan tetapi, faktor penentu
tersebut untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang, bukan pertumbuhan jangka
pendek.
Dengan
kata lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik,
sama atau lebih buruk dari tahun 2000 lebih ditentukan oleh faktor-faktor yang
sifatnya lebih jangka pendek, yang dapat dikelompokkan ke dalam factor internal
dan eksternal.
Faktor
eksternal didominasi oleh faktor-faktor ekonomi, seperti perdagangan
internasional dan pertumbuhan ekonomi kawasan atau dunia.
Akan tetapi pemahaman tentang keadaan krisis yang berisiko
untuk kembali ke keadaan tahun 1998 tidak didasari dengan fakta atau data yang
kuat. Oleh karena itu, klaim atau isu tersebut hanya beredar seperti kabar
burung yang ditakutkan akan membawa kegelisahan bagi netizen Indonesia lainnya.
Oleh karena itu, bagaimana keadaan ekonomi Indonesia untuk
tahun 2015 ini? Bagaimana perbandingannya dengan tahun-tahun sebelumnya? Apakah
keadaan ini dapat benar-benar berisiko untuk kembali pada krisis tahun 1998?
Pada tahun 2014, tepatnya pada akhir tahun di bulan
Desember, Bank Dunia telah melaporkan dalam ekspektasinya – bahwa pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada tahun 2015 nanti akan menyentuh angka 5.2% dan bahkan
dapat lebih dari jumlah tersebut.
Hal ini dijelaskan di situs worldbank.org – prediksi tersebut keluar setelah
evaluasi Bank Dunia terhadap Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi 2014 yang
mencapat angka 5.1%.
Prediksi adanya pelambatan dari pertumbuhan di 2015 seperti
penyesuaian harga minyak dunia serta bahan bakar dan termasuk efek dari
ekspor-impor global. Akan tetapi, Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia
– Rodrigo Chaves mengungkapkan “tips” untuk menghindari perlambatan pertumbuhan
ekonomi tersebut.
“Pembelanjaan pasar domestik di Indonesia yang bertahan
tinggi terus menopang pertumbuhan. Jika Indonesia memperkuat pondasi ekonomi
yang lain dan memperkuat iklim investasi, Indonesia dapat mendorong kembali
laju pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih pesat,” tutur Rodrigo Chaves dalam
penjelasan singkat tentang “tips” tersebut.
Christine Lagarde sebagai Managing Director IMF di situs CNN Indonesia – menjelaskan bahwa walaupun dengan
keadaan seperti ini, Lagarde tetap optimis dengan pengalaman Indonesia
menghadapi krisis dan dapat terus mampu bertahan dari tekanan dan turbulensi
lainnya.
“Lihatlah bagaimana Indonesia melewati krisis keuangan
global dan ‘taper tantrum’ di 2013. Indonesia saat ini tentu lebih mampu
menangani turbulensi semacam ini dibandingkan dulu,” tutur Lagarde.
Selain dari berbagai penjelasan di atas, dalam memasuki
triwulan terakhir pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo juga mengeluarkan paket
kebijakan ekonomi yang ada dua tahap. Akan tetapi, efek dari kebijakan ini juga
belum dapat dirasakan karena jelas kebijakan paket ekonomi ini masih baru saja
berjalan.
Hal tersebut dijelaskan dalam situs beritasatu.com – juga terkait anjuran Presiden yang
menilai masyarakat Indonesia harus paham dengan nilai tukar dolar Amerika yang
masih menguat terkait dengan tekanan eksternal.
Dengan penjelasan di atas yang telah mengemukakan bahwa
Indonesia memang dalam keadaan krisis dan melambat pertumbuhan ekonominya. Oleh
karena itu, jelas sebagian besar netizen Indonesia telah berasumsi adanya
risiko kembali ke keadaan krisis moneter di tahun 1998. Akan tetapi hal ini
jelas disanggah oleh Reza Priyambada sebagai Kepala Riset Korindo Securities Indonesia.
Terkait dengan hal tersebut, kebijakan paket ekonomi ini
akan menjadi penentu kondisi ekonomi ke depan. Kemudian, masih dalam persepsi
netizen Indonesia terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar – terbentuk dari
asumsi krisis 1998 akan terulang.
“Masyarakat awam menyamakan kondisi saat ini seperti 1998,
ketika rupiah jatuh ke titik rendah bebas, harga-harga naik dan terjadi
pengangguran,” tutur Reza Priyambada.
Namun jelas penilaian serta asumsi awam tersebut tidak
sesuai dengan keadaan kondisi ekonomi saat ini karena jelas dari ekonografik
yang dijelaskan sebelumnya, telah disebutkan pertumbuhan serta kondisi ekonomi
Indonesia masih aman.
Risiko untuk kembali seperti 1998 memang ada, tetapi tidak
mesti bahwa hal tersebut akan terjadi karena perbaikan terus dikerjakan. Oleh
karena itu, perbandingan kondisi ekonomi sekarang ini masih lebih baik dari
2008 dan bahkan 1998.
Dan jelas dengan berbagai penjelasan di atas, memang tidak
lantas ekonomi Indonesia mendadak menjadi lebih baik, akan tetapi proses
perbaikan terus berjalan sehingga harapan untuk memenuhi target pertumbuhan
ekonomi Indonesia baik secara nasional maupun global akan terpenuhi.
Daftar
Pustaka :
Danarkusumo,
Didi. https://www.selasar.com/ekonomi/asumsi-awam-kondisi-ekonomi-indonesia-saat-ini-2008-dan-1998.
Tanggal : 2 Maret 2016. Pukul : 21.17
Marina, Dinssy. http://dinskeey.blogspot.co.id/2011/03/bab-3-pertumbuhan-dan-perubahan.html.
Tanggal : 2 Maret 2016. Pukul : 20.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar